Bisnis.com, JAKARTA — Minggu pagi yang biasanya riuh oleh derap langkah kaki dan tawa anak-anak di kawasan Car Free Day (CFD) Jakarta, kali ini terasa lebih senyap.
Udara yang biasanya dipenuhi semangat sehat bersama, kini seakan dibalut rasa was-was. Fasilitas umum yang rusak oleh orang tidak dikenal pada Jumat (29/8/2025) mengganggu rasa aman masyarakat.
Hal ini tambah dengan aksi polisi yang viral tengah menyapu para pendeno di Kwitang, Jakarta Pusat, dengan tembakan peluru karet pada Sabtu malam (30/8/2025).
Prima (27 tahun), seorang pelari yang rutin mengisi Minggu paginya di arena CFD, mengaku hari ini berbeda.
“Saya memutuskan berolahraga hari ini karena memang sudah jadwal aja. Tapi perasaannya was-was, enggak plong seperti biasa. Takut ada kerusuhan paling ngeri [kalau] udah ada polisi sweeping,” ujarnya.
Meski akhirnya tetap berlari, dia memilih melakukannya seorang diri karena teman-temannya enggan ikut.
“Biasanya saya lanjut makan di sekitar sini, tapi karena kondisinya begini saya langsung pulang,” cerita Prima.
Baca Juga
Rasa waspada itu bukan tanpa sebab. Fasilitas umum yang selama ini menjadi penopang kenyamanan warga, kini rusak oleh sekelompok orang yang tidak diketahui identitasnya.
Beberapa halte tampak menghitam, bekas terbakar. Bagi Prima, kerusakan itu bukan sekadar soal fisik, melainkan juga luka batin.
“Saya sangat menyayangkan ya fasilitas umum dirusak. Sedih aja, kenapa fasum sampai jadi korban. Semoga cepat diperbaiki, karena kita butuh banget,” tambahnya.
Pemandangan serupa juga dirasakan Ivan (42 tahun). Dia tetap berolahraga pagi itu, meski suasana jelas berbeda.
“Biasanya ramai, padat, tapi sekarang agak sepi. Mungkin banyak orang masih takut,” katanya sambil menunjuk ke arah halte yang hangus terbakar.
“Sangat disayangkan. Halte itu kan tempat orang berteduh, tempat orang menunggu. Semoga cepat diperbaiki, agar bisa dipakai lagi sama masyarakat,” tuturnya.
Namun, bukan hanya para pelari dan pesepeda yang merasakan dampaknya. Kehidupan para pedagang kecil yang menggantungkan rezekinya dari keramaian CFD juga ikut terguncang.
Saiful (36), penjual bakso yang biasa laris-manis, hari ini hanya bisa menghela napas panjang. Hingga pukul 10.00 WIB, dia hanya memperoleh Rp230.000.
Padahal biasanya, pada jam yang sama, dagangannya bisa menghasilkan dua hingga tiga kali lipat.
“Sepi pembeli. Yang CFD juga enggak rame, stok bakso masih banyak,” keluhnya.
Iis (53), penjual minuman, merasakan hal serupa. Dia bercerita baru mengantongi Rp100.000 hingga pukul 10.30 WIB. Jumlah yang jauh dari cukup, bila dibandingkan dengan hari-hari biasa.
Kawasan CFD hari ini seperti merekam sebuah ironi: ruang publik yang semestinya jadi simbol kebersamaan, justru ditingkahi rasa takut.
Warga berusaha melanjutkan rutinitas, meski bayang-bayang kerusuhan masih terasa.
Fasum yang terbakar oleh sekelompok orang menjadi saksi bisu, bahwa luka sosial akibat oknum tidak hanya soal benda yang rusak, melainkan juga rasa aman yang hilang, bahkan rezeki yang ikut terenggut.